Senin, 17 November 2014

Harga BBM Subsidi Naik, Biaya Logistik Bakal Melonjak


Fitri Rachmawati   -   Senin, 17 November 2014, 08:23 WIB
Bisnis.com, JAKARTA--Supply Chain Indonesia (SCI) menilai rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi akan berdampak terhadap biaya operasional transportasi dan logistik, yang selanjutnya akan mempengaruhi harga barang dan jasa di masyarakat.
Ketua SCI Setijadi mengatakan perusahaan angkutan (trucking) merupakan salah satu pelaku yang akan mengalami dampak langsung kenaikan harga BBM.
Momen kenaikan BBM subsidi merupakan kesempatan bagi perusahaan transportasi untuk memperhitungkan kenaikan biaya-biaya lainnya. “Seperti tarif tol, biaya penyeberangan, suku cadang, uang makan supir, dan dampak inflasi lainnya,” tuturnya Senin (17/11/2014).
Berdasarkan analisis SCI, biaya BBM sekitar 29%-32% dari total biaya operasional truk. Kenaikan harga solar dari Rp5.500 per liter menjadi Rp 6.500 akan menaikkan biaya operasional sekitar 4%.
Adapun kenaikan Rp7.500 akan menaikkan biaya operasional 8%-9%, dan kenaikan Rp 8.500 akan menaikkan biaya operasional 12%-13%.
Analisis dilakukan terhadap armada Golongan III berbahan bakar solar pada rute Jakarta-Surabaya, dengan memasukkan biaya supir, maintenance, depresiasi armada, asuransi, serta administrasi dan manajemen.
 “Analisis dilakukan dengan menganggap kenaikan hanya terjadi untuk harga BBM, sedangkan biaya-biaya lainnya tersebut tetap,” tuturnya.
Lebih lanjut, perkiraan peningkatan biaya logistik dihitung berdasarkan perhitungan rata-rata biaya transportasi sekitar 45% dari biaya logistik.
Adapun salah satu masalah utama sektor transportasi yakni biaya pembelian armada dan suku cadang yang tinggi karena bunga pinjaman dan pajak. Dengan bunga pinjaman 11%-12% dengan jangka waktu 8 tahun, biaya depresiasi armada 17%-20% dari total biaya transportasi.
Masalah lain yakni waktu dan biaya transportasi yang tinggi karena produktivitas armada rendah. Penyebabnya terutama kemacetan di jalan dan antrean (waktu tunggu dan pelayanan) di fasilitas pelayanan transportasi (pelabuhan, jembatan penyeberangan, dan lainnya). Selain itu, keterpaduan jaringan transportasi masih banyak masalah.
Melalui harga BBM yang mahal dan terus naik, perlu terobosan penggunaan bahan bakar alternatif untuk mengurangi biaya transportasi, terutama BBG yang jauh lebih murah.
Karena itu, pemerintah perlu berupaya mengurangi dampak kenaikan harga BBM, baik melalui pengalihan subsidi BBM maupun program/kebijakan lainnya, terutama yang berkaitan dengan permasalahan dalam sektor transportasi.
Menurutnya, pemerintah perlu mengalihkan subsidi BBM untuk pengembangan infrastruktur jaringan transportasi yang terpadu dan terutama peningkatan fasilitas dan kualitas pelayanan transportasi, terutama di pelabuhan.
“Pengalihan subsidi BBM dalam bentuk insentif, misalnya untuk peremajaan armada truk dan suku cadang,” katanya.
Selain itu, perubahan kebijakan untuk menetapkan truk sebagai barang investasi, sehingga tidak dikenai bunga komersial yang tinggi.
Selain itu, mengembangkan program konversi BBM ke BBG, dengan meningkatkan jumlah dan sebaran SPBG, serta insentif untuk pengadaan armada BBG.

Editor : Hery Lazuardi
Sumber: http://industri.bisnis.com
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar