Sabtu, 08 November 2014

Sistem Transportasi Terintegrasi Antarmoda, Solusi Mahalnya Transportasi Publik

08 November 2014 - 12:58:05

MAHAL – KMP Portlink 1 tengah berlayar dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni. Keterpaduan antarmoda transportasi menjadi salah satu solusi memecahkan masalah mahalnya transportasi di Indonesia. (Foto: JM Foto/Firmanto Hanggoro)
 
Penulis: Damar Budi Purnomo
Jakarta, JMOL ** Bukan rahasia lagi, ongkos transportasi publik di Indonesia mahal. Salah satu faktor mahalnya ongkos transportasi adalah tak adanya usaha Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub), untuk membangun sistem pengintegrasian antarmoda angkutan umum di Tanah Air.
Tantangan menurunkan ongkos transportasi publik dan logistik memang merupakan pekerjaan rumah Kemenhub yang harus segera dikerjakan dan terselesaikan. Keterpaduan antarmoda transportasi sebagai salah satu solusi memecahkan masalah sepertinya sedang digodok matang oleh Kemenhub.
“Jika kita lihat wajah transportasi di Indonesia, masih berantakan. Ini membuat masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian,” ujar Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit dalam ‘Dialog Pelayanan Transportasi Publik: Sebuah Tantangan untuk Pemerintahan Baru’ di Jakarta Convention Center, Jumat (7/11/2014).
Tantangan pemerintah, sambungnya, adalah membuat sistem transportasi umum yang dapat terkoneksi dengan moda transportasi lain, dari satu tempat ke tempat lain.
“Ketika sudah selesai naik kapal di pelabuhan, bisa langsung melanjutkannya dengan menggunakan transportasi lain, seperti bus, kereta api, dan lain-lainnya. Begitu pun transportasi udara, harus segera dibangun terminal-terminal intermoda untuk mempercepat dan mengefisiensikan waktu, biaya, dan tenaga yang harus dikeluarkan masyarakat Indonesia,” tutur Danang.
Biaya Logistik Turun
Sementara itu, menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Sugiharjo, masalah pembentukan infrastruktur terintegrasi antarmoda sudah dibicarakan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Meski demikian, detailnya belum.
“Yang pasti, nanti menteri akan mengarahkan keterpaduan antarmoda, tidak hanya untuk orang, tetapi juga untuk barang, sehingga dapat meningkatkan efisiensi waktu perjalanan terhadap biaya transportasi dan menurunkan ongkos logistik,” jelasnya.
Hal yang terpenting mengintegrasikan semua moda adalah kesesuaian lokasi , pelayanan operasi, sistem tiket terpadu, jaringan pelayanan, rute dan trayek, serta keterpaduan fisik dan tataruang yang saat ini sudah semakin sempit, terutama di kota-kota yang sudah padat.
“Saat ini, pengeluaran biaya transportasi publik dalam satu keluarga bisa dikalkulasikan 30 persen dari gaji UMR satu kepala keluarga dengan 1 istri dan 2 anak,” ungkap Sugiharjo.
Menurutnya, saat ini pemerintah terus mendorong layanan transportasi perpindahan multimoda terintegrasi dengan sistem baik. Misalnya, infrastruktur tersebut dibangun di mal, kantor terpadu, pelabuhan, dan bandara.
“Rencana ini akan terus kita dorong untuk diimplementasikan di seluruh kota di Indonesia, bekerja sama dengan operator dan swasta. Dan program ini merupakan program never ending Pemerintah,” tegasnya.
Program ini tidak hanya memperlancar arus manusia, tetapi juga memperlancar arus logistik, seperti akses tol dan rel kereta api di Pelabuhan Tanjung Priok.
Salah satu Infrastruktur yang sudah terintegrasi, antara lain Halte Busway Juanda dengan Stasiun Juanda serta Pelabuhan Tanjung Priok yang terkoneksi rel kereta dan jalan tol.
“Teluk Lamong juga akan kita itu dorong, sehingga seluruh Indonesia transportasi umumnya bisa terkoneksi dengan seluruh moda,” ucap Sugiharjo.
Moda Transportasi Laut
Sebagai Negara Maritim, Indonesia belum dapat memaksimalkan moda transportasi laut. Hingga saat ini, moda jalan masih mengambil porsi lebih dari 85 persen pangsa angkutan penumpang dan barang.
Untuk angkutan penumpang, jalan mengambil porsi sebanyak 2.021,08 juta orang per tahun, atau sekitar 84,13 persen; kereta api 175,90 juta orang per tahun atau sekitar 7,32 persen; sungai 10,31 juta orang per tahun atau sekitar 0,43 persen; penyeberangan sebanyak 116,03 juta orang per tahun atau sekitar 1,76 persen; udara 36,54 juta orang per tahun atau sekitar 1,52 persen per tahun, dan laut sebanyak 42,34 juta orang per tahun atau sekitar 1,76 persen.
“Memang berbeda dengan angkutan penumpang, untuk angkutan barang moda transportasi laut berada di urutan kedua setelah moda jalan yang mencapai 90,34 persen atau mengangkut sebanyak 2.514,51 ribu ton per tahun, sementara laut hanya sekitar 7 persennya atau sebanyak 194,81 ribu ton per tahun. Sementara sisanya, moda transportasi lain, baik itu kereta api, sungai, penyeberangan, dan udara,” ungkap Ketua Pusat Pengkajian Logistik dan Sistem Rantai Pasok ITB, Senator Nur Bahagia, beberapa waktu lalu.
Untuk mengurangi beban jalan, sambungnya, angkutan barang maupun penumpang harus memaksimalkan moda transportasi lain. Pemerintah dapat memberikan batasan jarak tempuh kepada setiap moda transportasi.
“Seperti jarak di bawah 400 kilo meter (km) boleh menggunakan truk. Jika jarak lebih dari itu harus menggunakan moda lain, baik itu moda transportasi kereta api maupun laut. Sementara untuk jarak lebih dari 1.200 km harus menggunakan moda transportasi laut,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar